//
you're reading...
The world in my eyes

Bali-Lombok 271208-030109

Surabaya – Denpasar – Nusa Lembongan – Pantai Senggigi – Gili Trawangan – Gili Meno – Pantai Senggigi – Ubud – Denpasar – Surabaya

(27 Des – 3 Jan; rombongan: 5 orang)

27 Des

Naik KA bisnis pagi Surabaya – Banyuwangi (paket KA + travel, turun di terminal Ubung, Bali – Rp 125 K). Total 9 jam perjalanan (9am – 11 pm). Menginap dirumah teman di Denpasar Barat. Lumayan menghemat akomodasi. hehe.

28 Des

Naik taksi ke Pelabuhan Segara Sanur (tak jauh dari pantai Sanur) dari Denpasar Barat. Kurang lebih 10 am menyeberang dengan perahu motor bersama rombongan turis (Rp 110K). Tiket dibeli di sebuah toko kelontong. Jarak tempuh ± 45 menit.

Ada berbagai tipe penginapan di Nusa Lembongan. Berkisar 90K – 2 jutaan. Yang jutaan dilereng bukit menghadap ke laut. Penginapan Baruna bias dipesan online! Harga 90K menghadap ke pantai. Secret Garden bungalow seharga 150K, belakang Baruna – otomatis tidak menghadap laut. Tempat tidur 2 pasang, masing-masing bisa buat 2 orang + kipas angin + kamar mandi. Tempat bersih, ada semacam gazebo ditengah-tengah bungalow, nyaman untuk bersantai. Mempunyai akses ke perkampungan dari pintu belakangnya. Ada pura tepat dibelakang bungalow. Jika jalan-jalan ke perkampungan, ada warung sederhana yang menyediakan makanan yang lezat.

Siang hari setelah makan siang, sewa jukung (350K) buat snorkling di 2 tempat (laut dalam) ditemani seorang guide. Sayang, tempat snorkling pertama berarus kuat. Sebagai pemula maka kami cukup ngeri, untungnya, si guide memutuskan segera pindah tempat. Ditempat snorkling yang kedua arusnya lumayan bersahabat sehingga bisa berlama-lama snorkeling. Terumbu karangnya bagus, ikannya cukup banyak dan bervariasi kadang bisa datang secara bergerombolan. Disarankan membawa remah-remah snack untuk mengundang para ikan sedekat mungkin dengan kita. Karena saya ternyata penakut buat snorkling (maklum pertama kali) maka sang guide ngajak tandem buat mengelilingi lokasi terumbu karang yang bagus-bagus. Ngga nyangka bisa muter-muter sampe jauh. Sekali lagi keren habis! Ngga peduli lagi matahari menghitamkan kulit dengan cepat.

Nusa lembongan, yang masih kental nuansa Hindu Balinya, cukup luas buat dikelilingi sehingga dibutuhkan motor. Banyak persewaan sepeda motor (30K – 35K per jam). Sayang, tidak sempat keliling pulau karena keasyikan mengelilingi bibir pantai sekaligus mencari rental speed boat buat balik ke main island keesokan harinya. Sebenarnya ada berbagai alternatif untuk meninggalkan lembongan menuju ke Bali ataupun Lombok. Anggaplah, paket 1 = balik ke Sanur Sagara (perahu motor) + mobil ke padang bai (± 120K/ org); paket 2 = diangkut mobil ke pelabuhan lainnya di lembongan menuju ke Lembar (biaya lebih mahal, ± 450K/org).

29 Des

Naik speed boat ke Padang Bai (1jt sebenarnya bisa diisi sampai 10 orang – tapi tergantung besar muatan juga). Jarak tempuh ± 45 menit. Brunch di Papa John, sebuah resto tempat kumpul para bule (kebetulan disebelahnya ada tourist info). Makanannya lezat dan sebenarnya bisa pakai sharing berdua. Sayang, waktu penyajiannya lama sehingga sempat ketinggalan kapal dan harus menunggu sejam berikutnya. Tiket kapal seharga 32K/ org non AC; yang pakai AC lupa harganya. Kalau buat bule harga kapal berbeda, mereka ditarik ± 45K. tapi kalau tiket untuk bule yang beli orang Indon maka 32K (aneh!). Jarak tempuh kapal 4-5 jam. Bisa tiduran, makan noodle cup, ngejemur baju, dll.

Masuk ke pelabuhan Lembar is unbelievable. Pemandangannya indah. Perpaduan bukit,pasir putih, colorful boats membuat mata tak henti memandang dan hati bersyukur atas keindahan Indonesia. Turun dari kapal langsung mencari mobil ke pantai Senggigi. Sempat sebal dengan cara para calo mobil yang memburu panumpang. Akhirnya bisa nyewa 1 mobil (175K) dan dipakai puter-puter buat cari makan, ATM (BCA, Mandiri) di Mataram. Makan di RM Irama Taliwang yang katanya terkenal akan masakan khas Lombok. Sayang, beberapa masakan yang kami order sudah habis, padahal belum jam makan malam. Yang pasti, plecing kangkungnya lezat tapi pedas.

Sesampainya di Senggigi langsung cari penginapan di tourist info. Katanya semua penginapan sudah penuh, kecuali yang harganya 400K. Karena terlalu mahal dan meskipun listrik mati total maka kami mencoba langsung ke Raja Bungalow (90K) yang katanya mengusung nuansa alami. Sayang, tempat tsb penuh. Untungnya, didekat Raja, ada penginapan sederhana Astiti (60K). Fasilitas: king size bed bisa buat bertiga tapi harus bayar extra 10K (aneh juga sistemnya, tapi minta bonus bantal aja), kipas angin, kamar mandi dalam. Dua penginapan ini lokasinya tidak jauh dari jalan utama dan tinggal jalan kaki 5 mnt sampai deh di pantai senggigi. Di jalan utamanya terdapat berbagai resto, café, ATM, tourist info, dll. Lengkap dan ramai! Kehidupan malam kayaknya lebih hidup. Sayang tidak sempat menikmatinya karena hujan deras.

30 Des

Pukul 9, keesokan harinya berangkat ke Gili Trawangan dan Gili Meno (pp) dengan naik perahu motor. Perahu sudah dibooking sehari sebelumnya (150K/org) lengkap dengan alat snorkling. Catatan: harus dicek sebelum berangkat apakah peralatan ini tersedia diperahu; sebab kalau tidak mereka pura-pura tidak tahu sehingga akhirnya diminta nyewa alat snorkling lagi. Perjalanan kurang lebih 1 jam ke Gili Trawangan. Pantainya luar biasa indah dengan gradasi warna yang luarbiasa. Di bibir pantai, kita bisa melihat ikan kecil berwarna biru mengitari perahu. Begitu jernih airnya! Pasirnya sendiri berwarna putih. Pulau ini bisa dikelilingi dengan naik cidomo (75K) ataupun menyewa sepeda (15K/ jam tapi jika orang lokal bisa lebih dari itu!). Dengan sepeda, katanya cukup 1 jam; nyatanya bisa sampai ± 3 jam (plus istirahat & potret sana sini ataupun kesulitan melewati pasir yang jika tidak ahli lebih baik menuntun sepeda daripada jatuh!!). Sempatkan untuk melewati bagian dalam pulau yang berbukit-bukit sambil melihat nyiur melambai dan sapi oranye. Disekeliling pantai biasanya terdapat penginapan ataupun tanah kosong yang dijual. Ada salah satu penginapan dengan konsep joglo (hmm…aneh, ini kan bukan Jawa!) yang harganya ±183 US$/ malam. Jika tidak mau bersepeda ria, bisa menghabiskan waktu dengan duduk santai, diving, atau snorkling disekitar pantai. Kalau snorklingnya tidak mau terganggu oleh kehadiran perahu bisa cari pantai yang lebih sepi. Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama di sana karena harus ngejar ke Gili Meno sebelum sore.

Perjalanan ke Meno tidak lama. Pantainya juga luar biasa indah dengan pasir putihnya. Pulau ini lebih kecil dari Trawangan sehingga bisa ditempuh dengan jalan kaki karena memang tidak ada penyewaan sepeda. Selain buat snorkling, pulau ini mempunyai danau tanpa nama yang masih alami. Danaunya tidak terlalu luas dan tertutup oleh tumbuh-tumbuhan sehingga kita tidak bisa duduk santai disekelilingnya. Rumah penduduknya banyak yang sederhana demikian juga tempat penginapannya tidak semewah di Trawangan.

Jika harus memilih menginap maka saya akan memilih Trawangan karena banyak destinasi. Perjalanan kembali ke Pantai Senggigi lumayan seru karena ombak cukup besar dan hujan deras.

31 Des

Jam 6 pagi sudah berada di pantai Senggigi demi memuaskan keingintahuan bahwa pasir di Senggigi berwarna putih. Maklum hari sebelumnya hanya melihat pasir yang berwarna hitam. Ternyata, pasir di pantai Senggigi memang ada 3 warna: hitam, putih dan perpaduan diantaranya. Keren juga sih. Mengelilingi 3 buah ceruk lumayan jauh, apalagi jika ditempuh pp. Setiap ceruk menawarkan sensasi yang berbeda. 2 jam berlalu tanpa terasa, saatnya untuk segera berbenah balik ke Bali. Karena tidak sempat menelpon mobil yang membawa kita ke Senggigi hari sebelumnya, maka kami memutuskan naik travel (75K/orang + tiket kapal). Travel tsb diisi oleh 11 orang. Lebih nyaman jika kita bisa menyewa mobil sendiri yang sayangnya tidak Sampai di pelabuhan Lembar sekitar pkl 1, kami segera naik kapal dan meninggalkan Lombok dengan semua keindahan alamnya dengan satu tekat: I’ll be back!!

Tiba di Padangbai segera mencari mobil ke Ubud. Travel yang membawa kami sebenarnya menawarkan diantar bersama rombongan ke Ubud tapi kami menolaknya karena beranggapan akan dapat angkutan yg lebih murah sesampainya di Padangbai. Kenyataannya, sulit sekali mencari travel atau mobil sewa karena semua sudah ada penguasanya. Akhirnya, kami menemukan mobil travel buat disewa (250K) dengan kondisi yang bagus. Untuk urusan ini, kami harus naik dengan sembunyi-sembunyi karena sudah diwanti-wanti si sopir. Alasannya mungkin takut dengan sopir lainnya. Karena penumpangnya hanya kami berlima, si sopir bahkan mengajak istrinya buat jalan-jalan ke Ubud! 6 pm sampai di Ubud dan mendapatkan penginapan atas info si sopir di Merthayasa (150K). lokasi penginapan agak masuk sediiiiikit dari jalan utama, teduh karena banyak pohon dan bersih. Fasilitas: 2 tempat tidur yang sebenarnya bisa buat berempat. Tapi entah karena sedang akhir tahun atau karena yang punya sedang flying high (maklum pesta minuman sudah dimulai saat kami tiba) maka kami dapat extra bed yang bagus dan sebenarnya bisa buat berdua juga. Tambahan, ada kipas angin dan air panas! Selain itu tidak jauh dari monkey forest (5 mnt jalan kaki) dan sekitar ±2 km dari museum Antonio Blanco. Ada sepeda motor yang bisa disewa (40K seharian!).

Begitu sampai kami ditawarin nonton pertunjukan tari kecak dan tarian api. Dengan semangat 45 kami langsung pergi ke sebuah Banjar dengan diantar naik sepeda motor oleh sang pemilik. Terlambat beberapa menit tak mengurangi kenikmatan menonton tarian tsb. Sayangnya, ditengah tarian kecak gerimis mengusik. Pada saat tarian berakhir hujan sangat deras sehingga terpaksa pindah ke semacam pendopo sebelah. Setelah beberapa menunggu, akhirnya mulai juga pertunjukan tarian apinya. Ngga rugilah bayar 50K! Sempat makan malam disebuah resto yang menyediakan sayuran organik. Sempatkan untuk mencoba jus wheatgrass. Disajikan dalam sloki kecil sekali teguk plus irisan jeruk nipis. Segar, bergizi, mengenyangkan, dan rasa rumput!

Menjelang Tahun Baru jalan ke tempat gathering yang dipusatkan disebuah Banjar (±1 km dari penginapan). Semua warga banjar, turis lokal dan luar berbaur jadi satu. Karena baru pertama kali diadakan plus gemiris tak kunjung usai maka banyak kekurangan disana-sini. Kesalnya pas teng jam 12, kami masih harus mendengarkan pidato yang tak kunjung usai! Kembang apinya sendiri cukup lama, sampai 2 gelombang. Para bule tentu saja menghabiskan waktunya buat minum. Lainnya, silahkan menikmati keramaian yang ada plus foto sana-sini. Selamat datang 2009!!!

1 Jan

Bangun agak siang karena kecapekan, langsung menikmati breakfast yang enak dan mengenyangkan. Setelah mandi langsung jalan ke Monkey Forest (15K/ org). Tempatnya sejuk dan keranya tidak terlalu nakal. Semakin siang, tempat tersebut semakin ramai. Puas disana kembali ke penginapan dan siap jalan lagi ke museum Antonio Blanco. Ternyata jauh juga lokasinya padahal kami sudah memutuskan jalan kaki. Akhirnya tekat juga yang membuat kami sampai deitempat dengan selamat. Tiket masuk 30K untuk lokal dan 50 K untuk bule. Setiap tamu disambut oleh minuman yang menyegarkan dan langsung berfoto dengan burung kakatua. Ada pawang yang mendampingi. Lokasinya sendiri sejuk dan banyak tempat untuk foto! Hanya saja ruangan tempat pameran lukisan tidak bisa difoto. Jangan kuatir bagi yang tidak suka lukisan, karena museum ini menawarkan banyak hal lainnnya yang sayang jika dilewatkan. Duduk diam ditaman akan memberikan kesegaran bagi jiwa yang lelah.  Kembali ke penginapan, kami sempat mampir ke babi guling bu Oka yang katanya harus dicoba masakannya. Seporsi babi guling spesial seharga 25K. Lumayanlah. Lokasinya dekat pasar Ubud sehingga kami sekalian mampir ke pasar tersebut. Harus pandai-pandai menawar karena saingan kita adalah para bule! Jarang banget orang lokal mampir ke situ karena memang barang yang dijual adalah suvenir khas Bali. Perlu naik ke lantai 2 biar dapat harga lebih murah.

Kembali ke Denpasar Barat sore itu juga karena 2 orang rekan harus segera pulang ke Jawa. Berhasil nyewa 1 mobil yang lewat dijalanan dengan harga 180K. Sebenarnya masih mahal karena dengan harga segitu dianggap sewa setengah hari, sedangkan perjalanan kita hanya membutuhkan 3 jam (plus acara tersesat!)

2-3 Jan

Hanya menjadi tamu dirumah teman lama! Sebuah moment yang juga sangat indah. Sempat ke Erlangga 1 dan 2 buat beli oleh-oleh tanpa bersitegang leher dengan penjual. Katanya, sejak ada Erlangga, pasar Sukawati jadi agak sepi pembeli.

Balik ke Surabaya dengan naik travel (160K, hari biasa 150K). Sepertinya lebih enak naik travel kalo ke Bali (pp) karena selalu dari dan ke tempat yang dituju. End of the trip!

About CAR

google me, analyze me, share with me

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: