//
you're reading...
bit by bit

a cup of coffee

I like coffee rather than tea! Meskipun begitu, aku tidak suka jika dikategorikan sebagai coffee addict…ya walaupun aku selalu ngopi pada hampir tiap hari kerja..dan sesekali pas weekend. Tapi sekali lagi aku bukanlah coffee addict. Buktinya, aku tidak bisa minum espresso. Pahit, mana bisa dinikmati. Mendingan minum jamu yang ada bratawalinya sekalian, lebih sehat.

Sebagaimana tadi kukatakan aku sebenarnya hanya ngopi pada hari kerja, hal itu semata-mata dikarenakan salah seorang temanku pindah bagian ditempat yang basah. Bagaimana tidak basah…susu kaleng selalu tersedia tanpa henti 366 hari, 52 minggu, 12 bulan!! Jadi bagaimana mungkin aku melewatkan susu dan kopi yang tersedia gratis. Bagaimana pula aku bisa melewatkan kesempatan ngerumpi bersama para laki-laki itu yang meskipun tidak ada yang keren (hehe..maaf ya) tapi memperkenalkanku pada berbagai hal termasuk nonton termehek-mehek!!!

Pada perkembangan selanjutnya aku menyadari bahwa aku lebih menikmati saat-saat aku membuat..sekali lagi membuat kopi. Dengan kata lain, ritualnya yang hayati. Sebuah ritual purba dalam mencampurkan bubuk hitam dan bubuk putih dengan air panas yang lantas menghadirkan keharuman yang luar biasa…hmm…sangat khas!! Apalagi jika takaran pencampuran tsb tepat maka hasilnya…wow!! Dijamin, langsung melayang ke sorga tingkat 7 yang isinya beragam kedai kopi dari berbagai negara!!!! Tak heran, jika sampai ada profesi campur mencampur kopi yang namanya barista! Yang pasti, aku bukanlah barista. Gimana mau jadi barista, orang membuat kopi untuk diriku sendiri aja sering ngga enak! Kebanyakan kopilah, kurang susu, airnya kurang mendidih…ujung-ujungnya berakhir diwastafel…currr…habis dalam sekejap!

Sesekali ngopi pas weekend bagiku juga tidak masalah. Hello…weekend is social gathering time. Mana bisa kulewatkan acara ngobrol ngalor ngidul bersama adik tersayang atau teman yang jarang ketemu pas hari kerja yang mana mengambil tempat…let’s say di sebuah gerai kopi internasional yang logonya berwarna hijau; atau chit chat selepas Sunday Service yang selalu ditongkrongin oleh a jug of hot coffee. That’s heaven!

Sekali lagi, aku tidak bakal menyebut diriku coffee addict. Aku pernah berhenti ngopi beberapa waktu yang lalu. Bahkan hampir setahun lamanya. Bukan hal yang mudah sih, aku harus melewati beberapa kali trial & error mengingat kuatnya rayuan maut sang kopi. Finally, I made it! Keberhasilan tsb lebih disebabkan aku berhasil memperbanyak konsumsi minum air putih yang kata orang lebih menyehatkan. Benar sih air putih itu sehat, tapi diawal-awal usahaku mirip orang yang lagi morning sick plus I was becoming toilet addict!!

Anyway, sekali lagi aku bukanlah coffee addict but i’m just coffee lover. You know when someone’s falling in love, right? You think of your love one all the time and expect your love one to stay close. That’s what I think and expect of my coffee!

About CAR

google me, analyze me, share with me

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: