//
you're reading...
bit by bit

pengamen oh pengamen

Sebagai pecinta bis AKAP (antar kota antar propinsi), pengamen adalah bagian integral dalam dinamika kehidupan di bis, yang keberadaannya harus dinikmati..mau tidak mau…suka tidak suka. Nggak mungkin kan, aku harus belain turun ditol hanya karena tidak suka pengamen A yang suaranya cempreng. Untungnya, tidak semua pengamen seperti itu, banyak yang suaranya lebih merdu dari biduan ibukota. Bahkan, mereka semakin kreatif dalam mengolah lagu. Ada yang berduet: gitar-vokal, double gitar-double vokal, biola-vokal. Yang bersolo karier pun tak kalah seru. Pernah kudengarkan seorang pengamen yang gesekan biolanya mampu menghasilkan permainan lagu klasik nan ciamik. Kalau sudah gitu, nggak mungkin kan para penikmat konser mini tsb memberi gopek?

Beberapa hari lalu, setelah bete kelamaan nunggu bis, akhirnya kudapati juga AC 34. Bisa tidur sebentar nih, pikirku, apalagi bisnya full musik yang lembut mendayu-dayu. Begitu mata ini hendak kututup, dua orang pengamen sudah memperdengarkan petikan gitarannya. Alamaaakkk, mana sempet aku bermimpi kalo begini caranya! By surprise, kedua pengamen langsung memainkan intro lagu I’m Yours. Wuah….Jason Mraz!! Dalam hati, kupanjatkan doa semoga Inggrisnya tidak belepotan…bisa sakit hati tuh Mraz. Syukur pada Tuhan, mereka ternyata a very talented pengamen. I’m yours was perfectly delivered to audiences’ ears. T.O.P. B.G.T. dah! Tidak hanya satu itu, they gave us another surprise: Hotel of California! Well, secara pribadi aku tidak suka isi lagu ini, tapi yang pasti aku terpukau oleh siapapun yang mampu membawakan petikan gitarnya. Dan, kedua pengamen tsb, hampir sempurna memainkan melodinya. Andai aku bisa tepuk tangan saat itu. 98 kali keplokan…plok…plokkkk! Sebagai ending, sang pengamen mengusung lagu Rod Stewart. It was a sweet ending, I tell you. Dua lembar ribuanku melayang dengan ringannya.

Masih pada bis yang sama beberapa menit kemudian. Another ksatria bergitar memainkan lagu dengan spesialisasi Indonesia. Not bad, meskipun tidak sebagus pengamen sebelumnya. Sayangnya, baru tiga lagu dia mohon pamit dengan alasan banyak oarng arisan! What a *tit*. Tidak sopan sekali pengamen ini. Wajar dunk, kalo dibis rame…namanya juga angkutan umum!! Tapi karena musik dan lagunya bisa diapresiasi, maka selembar ribuan pun segera melayang.

Beberapa menit selanjutnya masih pada bis yang sama. Ksatria bergitar ketiga mulai mempertunjukkan kemampuannya. A bad choice. Nice voice yet worst pronunciation. Ini namanya merusak lagu. But to our surprise, dia secara tiba-tiba menghentikan acara ngamennya dengan alasan: terlalu berisik, nggak enak kalo nyanyi kayak gini! Malahan dia nggak nyodorin kantong sawerannya. What happen aya naun? Same reason, different pengamen. It must be something. After quite a while, I made a conclusion that it’s what we call as idealism. Ya, IDEALISME. Idealisme ternyata milik semua orang. Itulah yang membedakan orang yang sekedar bisa dengan orang yang mumpuni, orang yang sekedar senang dengan yang mencintai setulus hati. Itulah yang membuat kedua pengamen tsb menghentikan lagunya karena merasa tidak bisa mempersembahkan lagu-lagu mereka dengan baik dihadapan para audience-nya yang sebenarnya belum tentu mempedulikan kehadiran mereka. Jika para pengamen sederhana itu punya idealisme, bagaimana dengan kita?

[240309]

About CAR

google me, analyze me, share with me

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: