//
you're reading...
Ode

sekapur sirih buat sang emiritus

Tulisan ini dibuat untuk dimasukkan ke buku acara emiritus dari Papah kami, seorang Pendeta yang telah melayani jemaat dengan setia dan penuh pengabdian selama kurang lebih 31 tahun. Kiranya menjadi berkat bagi siapapun yang membaca tulisan ini.

o||o


[from the daughter]

Pensiun bagi sebagian orang berarti keluar dari semua rutinitias pekerjaan yang dilakoni sebelumnya. Pendeta, meskipun mengenal istilah pensiun, tidak benar-benar keluar dari rutinitasnya. Karena pendeta sampai kapan pun akan terikat oleh satu kata: PELAYANAN. Untuk itulah menjadi pendeta tidaklah gampang, terlebih menjadi pendeta yang sudah senior. Setiap saat, tingkah laku dan tutur kata seorang pendeta selalu diperhatikan oleh banyak orang. Tidak ada satu titikpun yang terlewatkan. Sangat berat dan tidak mudah! Dalam hal ini, konsistensi seorang pendeta untuk setia kepada Tuhan dan senantiasa memegang teguh FirmanNya sangat diperlukan.

Bapak Srimojo telah menunjukkan hal-hal tersebut diatas. Bukan hanya dalam perannya sebagai pendeta tetapi terlebih sebagai Papah dalam keluarga kami. Papah adalah sosok yang bisa dikatakan mewakili karakteristik ideal Bapak sejati: penuh kasih, sabar, hangat, humoris, fleksibel, punya banyak waktu untuk keluarga, dan tentu saja saleh. Dari figur papah sepert inilah yang memudahkan saya secara pribadi untuk mengenal Pribadi yang lebih Agung: Allah Bapa dan Allah Putra. Tentu saja papah sebagaimana para rocker juga manusia: tetap bisa salah dan tidak mungkin melakukan semuanya. Syukur kepada Tuhan karena telah menempatkan seorang pendamping hidup yang sepadan yaitu Ibu Herini Tjahjo, yang selanjutnya menjadi Ibuk [pakai k :-)] bagi kami. Seorang ibuk yang setia mendampingi papah dalam suka dan duka bahkan terjun langsung dalam pelayanan bersama. Jika menjadi pendeta saja tidak mudah maka menjadi istri pendeta sangat tidak mudah. Salut untuk ibuk yang mampu menjawab dan setia terhadap panggilan Tuhan sampai detik ini. Sebagaimana istri pendeta, menjadi anak seorang pendeta ternyata juga ribet. Tuntutan moralnya seringkali lebih tinggi. Tapi bagi kami berdua, semua kesulitan itu kurang lebih dapat dan akan kami lalui. Untuk itu, terima kasih kami haturkan buat papah dan ibuk yang telah membuat perjalanan kehidupan ini terasa nyaman dan menyenangkan. We’re proud of you. We love you full🙂

Masa depan tentu saja sebuah misteri. Bukankah sesuatu yang misterius itu menarik? Terlebih jika itu sebuah misteri Ilahi. Maka, dengan bergandengan tangan kami berempat akan meneruskan kehidupan dan pelayanan sebagaimana yang Tuhan pilihkan dan untuk senantiasa bersukacita di dalam Roh. Bagaimana dengan anda?

Karawaci, 5 Agustus 2009
Daddy’s little girl


[from the son]

Saya cukup banyak berkecimpung di dunia organisasi dan kepemimpinan. Saya belajar mengenai bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik, bagaimana mengajarkan seseorang agar bisa memimpin dengan baik dan bahkan saya juga belajar metode-metode kepemimpinan yang lain.

Dan dari itu saya menyimpulkan bagaimana sulitnya memimpin sebagai seorang pendeta. Struktur organisasi dalam majelis memang ada, tapi tidak pernah ada suatu keharusan seorang harus menuruti pendeta dalam suatu sidang majelis ataupun dalam nasihat-nasihat dan ajaran yang dia ajarkan, dan bahkan tidak ada hak veto untuk memecat anggota majelis atau warga jemaat yang nakal ataupun yang tidak menuruti pendeta dalam banyak hal.

Yang ada hanyalah suatu kharisma yang dimiliki seorang pendeta. Kharisma yang bukan hanya kharisma sebagai seorang pemimpin biasa, tapi suatu kharisma yang memberikan kesejukan dan juga keinginan bagi banyak orang untuk hormat dan mencontoh dia dalam segala hal. Kharisma yang harus selalu ada, murni dalam perkataan dan perbuatan, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Suatu kharisma yang sulit untuk dimiliki, but our dad do it,dan kalau boleh saya bilang succeded in it.

And as the saying goes: “Behind every great man, there’s a great women”. Our mom. Menemani ayah dalam setiap pelayanannya. Menemani dalam suka ataupun duka, hormat ataupun cercaan jemaat, kelebihan ataupun kekurangan. Asosiasi sifat dan pribadi yang sangat berlawanan namun saling melengkapi.

Ketegasan ayah dan kelemahlembutan ibu ataupun amarah ayah dan tangisan ibu telah melengkapi pelayanan dan contoh-contoh yang mereka berikan tidak hanya untuk kami dalam keluarga, tapi saya yakin juga untuk setiap orang yang mereka layani.

Matursuwun kagem sedaya kang sampun diparingaken papah lan ibuk. Gusti amberkahi papah lan ibuk. Amien.

About CAR

google me, analyze me, share with me

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: